Sekolah
merupakan wadah penyedia layanan pendidikan. Selain menyediakan pendidikan yang
baik, sekolah juga memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri melalui
berbagai organisasi yang tersedia di sekolah. Siswa diharapkan mampu
memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga dapat menguasai kemampuan-kemampuan
yang tidak diajarkan secara formal di sekolah, misalnya mengenai kepemimpinan,
manajemen waktu yang baik, dan sebagainya.
Organisasi
adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai
tujuan bersama (KBBI, 2015). Terdapat berbagai macam organisasi di sekitar
manusia yang mana keragaman tersebut tergantung dari tujuan yang ingin dicapai
oleh anggotanya. Begitu juga organisasi yang terdapat di lingkungan sekolah.
Masing-masing organisasi yang terdapat di sekolah memiliki visi dan misi
masing-masing. Organisasi juga dapat dijadikan sebagai wadah untuk ekspresi
diri yang dapat mempengaruhi eksistensi diri di mata orang lain.
Dalam organisasi
sering kali muncul klik. Klik adalah kelompok-kelompok kecil dalam satu
organisasi yang bersifat non formal dan tanpa struktur (KBBI, 2015).
Anggota-anggota dalam suatu klik biasanya memiliki pemikiran dan kepentingan
yang sama. Keberadaan klik terkadang
dapat disadari atau tidak disadari oleh anggota kelompok dalam organisasi yang
bersangkutan.
Klik-klik yang
terdapat dalam suatu organisasi rawan menciptakan kesenjangan. Kesenjangan
antarklik tersebut dapat menimbulkan gesekan yang selanjutnya berujung pada
munculnya konflik. Konflik yang tidak ditangani secara serius mungkin akan
menghambat tercapainya tujuan organisasi.
Siswa merupakan
individu yang sedang berkembang dan seringkali aktif sebagai aktivis organisasi
di sekolahnya sebagai usaha mencari identitas diri. Menurut teori perkembangan
kepribadian Erikson, pada tahap remaja merupakan keadaan dimana seorang
individu mengalami krisis identitas dan bingung atas identitas apa yang melekat
pada dirinya. Mereka akan cenderung membentuk kelompok untuk berusaha menemukan
jati diri (Santrock, 2004).
Hal yang perlu
diperhatikan untuk meminimalisasi terbentuknya klik adalah kohesivitas
kelompok. Kelompok dapat diartikan sebagai dua orang atau lebih yang saling
berbagi ketentuan dan evaluasi atas mereka sendiri serta berperilaku sesuai
dengan ketentuan tersebut (Hogg & Vaughan, 2011). Kohesivitas kelompok
adalah persatuan atau kuatnya ikatan internal anggota kelompok yang secara
teoritis merupakan bagian terpenting dalam berorganisasi. Kohesivitas kelompok
merupakan salah satu indikasi suatu organisasi berjalan dengan sehat. Tanpa
kohesivitas kelompok mungkin akan muncul disintegrasi, yaitu anggota akan
meninggalkan organisasinya (Forsyth, 2010).
Kohesivitas
kelompok memiliki empat komponen yang saling berkaitan. Menurut Forsyth (2010)
komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. Social cohesion,
yaitu daya tarik antaranggota satu dengan yang lain dan dengan kelompok secara
keseluruhan.
2. Task cohesion, yaitu
kapasitas untuk melakukan sesuatu dengan sukses sebagai unit yang terkoordinasi
dan sebagai bagian dari kelompok.
3. Perceived
cohesion, yaitu kesadaran sebagai bagian dari kelompok, atau
rasa persatuan.
4. Emotional
cohesion, yaitu intensitas emosional kelompok dan
anggota-anggotanya ketika di dalam kelompok.
Klik
dapat muncul apabila keempat komponen pembentuk kohesivitas di atas kurang
bersinergi.
Kohesivitas kelompok mutlak diperlukan dalam
berorganisasi. Bagian terpenting dalam berorganisasi adalah mencapai tujuan
bersama yang telah disepakati. Kohesivitas merupakan faktor yang penting dalam
mewujudkan tujuan bersama tersebut.
Komponen
kohesivitas yang meliputi social
cohesion, task cohesion, perceived
cohesion, dan emotional cohesion
dapat dijadikan tolak ukur untuk melihat seberapa kuat kohesivitas suatu
organisasi. Social cohesion
menunjukkan bagaimana interaksi antaranggota organisasi dalam berhubungan satu
sama lain, maupun ketika berinteraksi
dengan kelompok secara keseluruhan (Forsyth, 2010). Jika interaksi
dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka hal tersebut dapat mengurangi
kesalahpahaman serta meningkatkan rasa persatuan dalam organisasi.
Task
cohesion berhubungan dengan kemampuan bekerja dalam kelompok (Forsyth, 2010). Tujuan bersama akan
lebih mudah dicapai apabila dikerjakan secara bersama-sama. Hal tersebut
umumnya disebut sebagai pembagian kerja. Pembagian kerja yang sesuai kapasitas
anggota akan dapat mengefisienkan sumber daya serta tenaga yang ada. Dalam
pembagian kerja tentu saja diperlukan koordinasi yang baik. Hal ini sering
sekali menjadi titik awal permasalahan dalam organisasi dimana koordinasi
dilakukan dengan tidak baik sehingga terjadi kesalahpahaman, bahkan membuat
usaha mencapai tujuan organisasi terhambat.
Perceived
cohesion berkaitan dengan kesadaran anggota sebagai bagian
dari organisasi (Forsyth, 2010). Kesadaran berbanding lurus dengan
loyalitas anggota terhadap organisasi. Jika kesadaran sebagai bagian dari
organisasi tinggi, maka loyalitas otomatis akan tinggi. Hal tersebut akan
sangat membantu dalam usaha pencapaian tujuan, karena adanya kesediaan untuk
melakukan apapun sepanjang menguntungkan untuk organisasinya.
Emotional
cohesion merupakan seberapa kuat emosi antaranggota
organisasi saling terkait ketika berada di tengah kelompok (Forsyth, 2010). Intensitas keterikatan secara
emosional ini penting untuk meningkatkan kesadaran sebagai bagian dari kelompok
(perceived cohesion). Keterikatan
secara emosional dapat semakin mempererat hubungan antaranggota dan tentu saja
akan semakin menguatkan persatuan dan kesatuan organisasi. Persatuan dan kesatuan
ini akan sangat menunjang usaha pencapaian tujuan bersama. Hubungan
antarkomponen diatas saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga diperlukan
sinergi yang baik diantara keempatnya.
Seperti
telah dijelaskan sebelumnya, masalah yang dapat muncul dari kurangnya
kohesivitas adalah munculnya klik. Klik umumnya muncul karena ketertarikan
antaranggota organisasi rendah (social
cohesion). Biasanya hanya beberapa orang saja yang memiliki daya tarik satu
sama lain yang selanjutnya justru membentuk kelompok-kelompok kecil (klik)
dalam organisasi. Akibatnya para aktivis tersebut akan mengurangi intensitas
bergaul dengan anggota yang tidak berasal dari klik yang sama dengannya.
Klik-klik
yang terbentuk tersebut dapat mempengaruhi rasa persatuan dalam organisasi karena
intensitas berhubungan antaraktivis berkurang. Hal ini berarti intensitas
komunikasi juga berkurang. Akibatnya ikatan emosional antaranggota kelompok
berkurang pula. Efek selanjutnya adalah hasil kerja masing-masing aktivis
kurang maksimal karena kerjasama diantara mereka terhambat oleh kurangnya rasa
persatuan, komunikasi serta ikatan emosional yang lemah.
Penjelasan
mengenai klik di atas menunjukkan bahwa klik dapat berpotensi menjadi salah
satu pemicu konflik. Konflik dalam berorganisasi memang tidak seharusnya
dihindari, namun harus dihadapi. Konflik akan membawa dampak positif
apabila mampu diselesaikan dengan baik,
namun jika tidak dapat terselesaikan akan mengancam kelangsungan organisasi.
Konflik
adalah suatu proses sosial antara orang per orang atau kelompok dengan kelompok
yang saling berselisih. Umumnya konflik terjadi karena perbedaan pendirian,
kepentingan, terjadi kesalahpahaman, dan seterusnya (Narwoko & Suyanto, 2004).
Konflik
menyebabkan relasi antaraktivis yang berasal dari klik yang berbeda akan
semakin renggang karena adanya prasangka buruk (prejudice), sehingga meminimalisasi kontak. Apabila kontak yang
terjadi sedikit, maka akan sulit untuk saling mengenal satu sama lain, saling
memahami karakter masing-masing, dan hal-hal yang bersifat relasional yang
lain, yang selanjutnya mudah memicu konflik.
Kesimpulannya, klik merupakan ancaman tersendiri
dalam organisasi. Klik dapat menjadi salah satu sumber pemicu konflik yang
tidak menguntungkan, baik untuk organisasi maupun untuk para aktivis. Dalam
berorganisasi, klik dapat menghambat tercapainya tujuan organisasi karena rawan
memicu konflik. Konflik tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan
pandangan antar klik maupun karena timbul prasangka yang disebabkan oleh
minimnya kontak diantara para aktivis organisasi.
Sedangkan
untuk relasi interpersonal, aktivis yang berasal dari klik yang berbeda
cenderung memiliki hubungan yang kurang baik. Hal tersebut disebabkan oleh prasangka
buruk yang diperoleh dari kelompok kliknya terhadap anggota dari klik yang
lain.
Daftar
Pustaka
Forsyth, D. R. 2010. Group Dynamics 5th Edition.
Belmont: Wadsworth.
Narwoko, D. J., & Suyanto, B. 2004. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Prenada Media Group.


0 komentar:
Posting Komentar