Cinta merupakan suatu rasa yang familiar
bagi seluruh manusia. Cinta memiliki berbagai sebutan dalam berbagai bahasa
yang berbeda-beda, namun rasa yang dimaksud dalam bahasa-bahasa tersebut adalah
sama, yaitu rasa cinta itu sendiri. Cinta dalam bahasa Indonesia berarti suka
sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan),
ingin sekali, berharap sekali, dan rindu (KBBI, 2015).
Cinta merupakan suatu seni yang
membutuhkan pengetahuan dan usaha. Hal yang diperlukan untuk merasakan cinta
adalah usaha mencintai daripada usaha dicintai. Orang saling cinta bukan karena
adanya fenomena “jatuh” yang seakan-akan meruntuhkan tembok diantara dua manusia
yang tidak saling mengenal, namun lebih kepada usaha untuk bertahan dalam
menerima dan mencintai orang lain (Fromm, 2005).
Paradigma yang berkembang dalam masyarakat umum tentang cinta adalah bahwa manusia ingin dicintai, sehingga usaha-usaha yang dilakukan juga berkaitan dengan usaha agar dicintai. Contoh yang paling mudah misalnya bersolek. Perilaku menarik perhatian tersebut sesuai dengan pendapat Fromm (2005) bahwa mayoritas manusia lebih cenderung berusaha dicintai dengan cara tampil “menarik”, yang merupakan paket lengkap berisi sifat-sifat populer yang diterima dengan baik oleh masyarakat. Selain itu paket tersebut juga sesuai dengan mode terkini baik mengenai hal fisik maupun mental. Baik laki-laki maupun perempuan berusaha tampil maksimal untuk memperoleh perhatian orang lain. Tampil menarik dianggap mampu memberikan pengalaman dicintai yang lebih baik. Manusia menyukai keindahan, oleh karena itu tampil menarik dengan memperindah diri merupakan salah satu usaha yang sering dilakukan manusia untuk merasakan cinta.
Dampak dari paradigma di atas adalah
manusia cenderung menunggu datangnya cinta daripada mencari cinta. Apalagi
untuk kaum wanita, khususnya yang masih memegang erat budaya, seperti
wanita-wanita Indonesia. Mereka menganggap
bahwa cinta merupakan hak pria untuk memilih, sedangkan wanita yang menentukan
untuk menerima atau menolak. Meskipun emansipasi sudah digaungkan di seluruh
penjuru tanah air, namun nampaknya budaya tetap memiliki andil dalam membentuk
perilaku manusia yang menganutnya.
Perasaan ingin dicintai merupakan wujud
keegoisan manusia. Hal tersebut karena dicintai berarti menerima cinta dari
orang lain. Tanpa adanya usaha timbal balik untuk mencintai, maka jelas manusia
adalah makhluk yang egois. Sedangkan mencintai bertolak belakang dengan
dicintai. Mencintai adalah tindakan aktif untuk memberi cinta kepada orang lain
(Fromm, 2005). Timbal balik akan
terjadi secara otomatis karena jika kedua pecinta saling memberi, keduanya akan
merasakan mencintai dan dicintai sekaligus.
Cinta seringkali dianggap sebagai
sesuatu yang tidak perlu dipelajari (Fromm, 2005).
Mayoritas manusia menganggap cinta merupakan kejadian yang terjadi begitu saja,
tidak membutuhkan pemahaman dan pengetahuan. Mencintai seseorang dianggap
sebagai pemberian yang tidak dapat ditolak, seakan-akan Tuhan memberikan rasa
cinta kepada manusia tanpa bisa ditolak oleh manusia tersebut. Hasil dari
anggapan ini adalah sikap pasrah yang justru memperburuk keadaan manusia yang
pada dasarnya sedang mengalami kesepian. Tidak terjadi usaha untuk mencintai,
melainkan perasaan ‘terpaksa’ mencintai.
Cinta
termasuk kebutuhan manusia yang penting. Cinta diperlukan untuk meredam
kegelisahan akibat keterpisahan. Keterpisahan adalah sumber kegelisahan yang
mendalam, sehingga diperlukan penyatuan
melalui cinta untuk keluar dari penjara kesendiriannya. Sebagaimana
telah disebutkan pada paragraf sebelumnya, cinta adalah seni, dan seni
memerlukan penguasaan teori serta penguasaan praktik sekaligus. Penguasaan
teori dan praktik ini membantah dugaan bahwa cinta merupakan hal yang tidak
perlu dipelajari (Fromm, 2005).
Kecemasan sebagai individu yang
‘sendiri’ akan membuat manusia semakin terisolasi. Untuk keluar dari kondisi
tersebut dibutuhkan usaha yang keras. Kesendirian dapat dirasakan karena
keterpisahan, sedangkan keterpisahan merupakan hasil dari kesadaran akan
dirinya sendiri, bagaimana manusia menyadari bahwa dirinya merupakan entitas
yang terpisah (Fromm, 2005).
Manusia melakukan berbagai cara untuk
merasakan penyatuan dalam kelompok tertentu yang mana penyatuan dalam kelompok
tersebut dapat membentuk konformitas. Manusia memiliki ketakutan akan
nonkonformitas yang dapat dirasionalkan sebagai bahaya praktis yang dapat
mengancam orang yang nonkonformis. Sebagian manusia bahkan tidak menyadari
kebutuhan akan konformitas ini, sehingga terjebak ilusi bahwa mereka sedang
mengikuti gagasan dan kehendak hatinya sendiri serta menganggap bahwa secara
kebetulan gagasannya sama dengan mayoritas orang (Fromm, 2005).
Mencintai merupakan aktivitas memberi (Fromm, 2005).
Jika demikian aktivitas ini membutuhkan energi untuk melakukannya. Jika seseorang
tidak berupaya untuk mencintai orang yang dianggap special, maka orang tersebut
bisa mengalihkan energi yang dimilikinya untuk cinta terhadap sesama. Cinta
sebagai kebutuhan manusia dapat berupa apa saja, yang artinya, mencintai
tidaklah sesempit sekedar terhadap seseorang yang spesial saja, melainkan lebih
luas dari itu.
Cinta terhadap sesama adalah rasa
tanggung jawab, kepedulian, menghormati, pemahaman tentang manusia lain,
kehendak untuk melestarikan kehidupan, yang merupakan dasar dari seluruh jenis
cinta. Cinta semacam ini berasal dari pemahaman bahwa manusia itu satu. Cinta
semacam ini berlaku umum untuk seluruh manusia. Ketika seseorang berhasil
mencintai sesamanya, maka ia adalah manusia seutuhnya yang telah berhasil
memiliki kemampuan mencintai (Fromm, 2005).
Kesimpulannya, kesendirian manusia
berasal dari keterpisahan yang tidak dapat diselesaikan tanpa adanya penyatuan
melalui cinta. Cinta bukanlah sesuatu yang sempit, yang hanya mengenai cinta
romantis dengan pasangan manusia, melainkan lebih kepada usaha untuk mencintai
semua orang secara keseluruhan karena adanya kesadaran bahwa manusia memiliki
identitas yang sama. Manusia adalah makhluk yang setara, terlepas dari
atribut-atribut apapun yang melekat pada setiap individu manusia. Oleh karena
itu, mencintai sesama bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan harus dilakukan
agar manusia dapat hidup sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Fromm, E. (2005). The Art of Loving : Memaknai
Hakikat Cinta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
KBBI. (Januari 2015). Diakses pada 15 April 2015, dari Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia:
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/

0 komentar:
Posting Komentar