Managemen Konflik



           Konflik adalah keditaksepakatan, perselisihan, dan pergeseran yang terjadi ketika tindakan atau keyakinan seseorang atau beberapa orang dalam kelompok tidak diterima dan ditentang oleh salah satu atau lebih anggota kelompok yang lain (Forsyth, 2010). Konflik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berhubungan dengan orang lain, sehingga peluang untuk berselisih dengan sesama manusia terbuka dengan sangat lebar.
            Kepentingan-kepentingan manusia pada dasarnya merupakan salah satu pemicu utama timbulnya konflik. Ketika seseorang menghadapi konflik, terdapat berbagai macam cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mengatasi konflik yang mereka hadapi. Ada orang yang sengaja menghindari konflik, ada yang dengan penuh kesadaran menghadapi konflik yang ada, ada pula yang bersikap acuh terhadap konflik. Apapun perilaku yang dilakukan, hal itu merupakan dinamika kehidupan manusia yang mereka pilih ketika dihampiri oleh konflik. Sedangkan saya sendiri termasuk orang yang kondisional dalam menghadapi konflik. Ada kalanya saya ingin menyelesaikan konflik sampai tuntas, ada kalanya saya cuek terhadap konflik yang terjadi.
            Sebagian orang percaya bahwa konflik dapat dikelola (dimanajemen). Saya juga sependapat dengan konsep ini. Melalui mata kuliah yang saya ikuti di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, yaitu Pengembangan Diri, saya memahami bahwa konflik yang dihindari justru akan berpeluang menciptakan masalah yang lebih besar. Perlu dipahami bahwa sifat konflik dapat berupa konflik konstruktif dan konflik destruktif. Konflik konstruktif artinya konflik tersebut mampu membangun pihak-pihak yang berkonflik menjadi lebih baik lagi, biasanya konflik jenis ini sering terjadi dalam lingkungan organisasi. Konflik yang bersifat destruktif adalah konflik yang sifatnya menghancurkan hubungan serta menjadikan pihak yang berkonflik semakin berseteru. Adanya konflik konstruktif maupun destruktif ini tergantung dari cara menghadapi konflik itu sendiri.
            Saya adalah seorang aktivis organisasi. Saya paham benar bahwa konflik yang muncul dalam organisasi tidak dapat dihindari, dan memang tidak untuk dihindari. Saya belajar untuk memahami orang lain dalam usaha saya menyelesaikan konflik. Dengan memahami orang lain saya dapat mengerti titik permasalahan dengan lebih obyektif karena melihat dari sisi lain konflik tersebut, sehingga akan muncul empati terhadap orang lain yang akan memunculkan keinginan untuk mengurangi tuntutan (muncul toleransi).
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika konflik yang dihadapi manusia dapat dimanajemen, kemungkinan untuk menjadi lebih besar dapat ditekan, bahkan bisa menjadi perekat bagi pihak yang berkonflik. Manfaat lain dari manajemen konflik adalah pihak-pihak yang berkonflik tersebut dapat memperoleh pelajaran bagaimana cara menyelesaikan konflik tanpa menyakiti pihak lain, serta menjadikan mereka pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.

Daftar Pustaka

Forsyth, D. R. (2010). Group Dynamics Fifth Edition. Belmont: Wadsworth, Cengange Learning.

Komunikasi Interpersonal



           Komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Bahkan bisa jadi komunikasi telah menjadi kebutuhan pokok manusia setelah sandang, pangan, dan papan. Apalagi di era yang semakin modern seperti saat ini, berbagai hal dapat diketahui melalui komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
            Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (KBBI, 2015). Berdasarkan definisi di atas, dapat diketahui bahwa komponen-komponen yang harus ada dalam komunikasi adalah sebagai berikut:
1.      Pengirim pesan (komunikator).
2.      Penerima pesan (komunikan).
3.      Pesan, yaitu informasi yang akan ditransfer dari pihak satu ke pihak yang lain.
4.      Media atau alat yang digunakan untuk menyampaikan maupun menerima pesan.
Komunikasi yang dilakukan oleh 2 pihak atau lebih dapat juga disebut sebagai komunikasi interpersonal.
            Komunikasi interpersonal dapat menjadi penghubung dalam berbagai hal. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk selalu berhubungan dengan orang lain. Hubungan tersebut dapat terjalin jika terjadi komunikasi diantara manusia tersebut. Melalui komunikasi akan dapat tercipta kehidupan yang saling bermanfaat dan sejahtera. Namun, komunikasi yang buruk juga dapat menghancurkan hubungan manusia, sekalipun terdapat ikatan keluarga.
            Untuk menjaga agar hubungan manusia tetap berjalan dengan baik, dibutuhkan adanya kemampuan komunikasi yang baik pula, salah satunya melalui negosiasi. Negosiasi adalah proses pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berbeda kepentingan untuk memecahkan perbedaan diantara mereka (Hayes, 2002). Dengan kemampuan negosiasi yang baik, seseorang akan mampu mengakomodasi kepentingn yang dimilikinya dengan lebih baik dibandingkan dengan orang yang kurang menguasai ketrampilan ini.
            Dengan mengetahui pentingnya peranan komunikasi interpersonal di atas, saya merasa bahwa ketrampilan ini perlu untuk terus di asah. Karena sifatnya adalah ketrampilan, maka memungkinkan untuk dikuasai melalui latihan yang berkelanjutan. Jadi, untuk individu yang merasa kurang percaya diri karena kemampuan komunikasi interpersonalnya kurang baik, masih tetap ada kemungkinan untuk dapat menguasainya.
            Saya sendiri bukanlah orang yang pandai dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Saya tidak menyukai berbicara di depan publik. Namun, saya sadar bahwa suatu saat kemampuan public speaking pasti akan diperlukan. Apalagi di dunia yang penuh dengan persaingan, mempersuasi orang akan sangat diperlukan. Salah satu usaha yang telah saya lakukan adalah dengan bergabung pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus. Salah satu tujuannya untuk mengasah kemampuan komunikasi saya yang kurang baik. Dalam lingkungan organisasi, seseorang akan menghadapi kondisi dimana ia dituntut untuk melakukan sesuatu, termasuk komunikasi, sehingga menurut saya cara ini lebih efektif daripada hanya sekedar memahami teori dan manfaat-manfaat dari komunikasi itu sendiri.

Daftar Pustaka

Hayes, J. (2002). Interpersonal Skills: Goal-directed behaviour at work. London: Routledge.
KBBI. (2015, Januari). Retrieved Januari 8, 2016, from Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/

Kemampuan Kerjasama dan Kerja Tim



          Tim atau kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama disertai dengan keinginan untuk mencapai tujuan tersebut. Bagi saya, kelompok adalah ajang untuk mengembangkan diri, karena di dalam kelompok kita dapat berdinamika dengan berbagai tipe orang yang mungkin tidak bisa kita jumpai jika kita tidak membuka diri untuk berkelompok. Bagi saya, berkelompok juga berarti membangun koneksi, baik sebagai teman, rekan kerja, rekan bisnis, atau yang lainnya. Berkelompok memberikan kesempatan seseorang untuk memahami bahwa seorang manusia tidak seharusnya menyendiri atau hidup sendiri.
          Dalam berkelompok dibutuhkan hubungan yang bersinergi. Hal ini dapat terjadi apabila setiap anggota kelompok mampu bekerja sama satu sama lain dengan baik. Bekerja sama bukanlah sesuatu yang mudah, namun juga tidak terlalu sulit jika setiap anggota mengetahui aturan main yang berlaku. Kerjasama membutuhkan berbagai ketrampilan interpersonal, misalnya komunikasi, dan kemampuan mengelola emosi
          Saya sangat menyukai kerjasama. Bagi saya dengan bekerja sama suatu pekerjaan akan terasa lebih ringan dan beban psikologis atas tugas tersebut tidak membebani saya sendiri. Keuntungan lain dari kerjasama adalah kita dapat mengasah kepekaan terhadap sesama anggota tim. Kerjasama dan kerja dalam tim ini akan sangat bermanfaat dalam bidang apapun karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kerja tim dalam usaha pemenuhan kebutuhannya.