Global Warming dan Cara Mengatasinya


Global warming atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama pemanasan global merupakan proses naiknya suhu rata-rata atmosfer, laut serta daratan bumi. Meningkatnya suhu tersebut menyebabkan bumi yang kita diami ini terasa lebih panas dan saat siang hari kita merasakan pana yang berlebihan. Kenaikan suhu bumi ini dimungkinkan diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat dari ulah dan aktivitas manusia itu sendiri. Dengan adanya global warming banyak sekali kerusakan yang dapat ditimbulkan, bukan hanya satu namun bisa mencapai seluruh struktur yang berada di bumi itu sendiri. Global warming bukanlah persoalan bagi pemerintah melainkan persoalan bagi seluruh umat penduduk bumi, bayangkan jika seandainya kutub utara dan selatan mencair apakah kita hanya akan menggantungkan nasib kita ke pemerintah saja? Global warming menjadi tanggung jawab kita masing-masing, semua masyarakat harus berperan aktif untuk mencegah atau melambatnya proses global warming.
cara mengatasi pemanasan global (global warming):
1. Jangan menebang pohon sembarangan
Pohon merupakan penghasil gas O2 (oksigen) terbesar di dunia. setiap hari kita bernafas membutuhkan Oksigen,dan pohon-pohonlah yang setiap harinya menyediakan oksigen untuk kita. Semakin sdikit pohon akan menyebabkan gas CO2 (karbon dioksida) bisa dengan leluasa berkeliaran dan akhirnya membuat bumi semakin panas. Terlepas dari itu kita bernafas menggunakan oksigen tanpa adanya oksigen mungkin kita tidak akan bisa hidup sampai sekarang.

Globalisasi

Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik.
Khususnya, globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi dunia.
Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi



Bagaikan dua sisi mata uang koin, globalisasi tidak hanya memberikan dampak positif bagi

Sejarah Real Madrid

Sejarah Real Madrid Club de Futbol bermula pada tahun 1897. Saat itu beberapa mahasiswa Institución libre de enseñanza yang terdiri dari lulusan Universitas Oxford dan Cambridge mendirikan sebuah klub sepakbola bernama Football Club Sky. Klub ini lalu terpecah  2 pada  tahun 1900 menjadi New Foot-Ball de Madrid dan Club Español de Madrid. Pada 6 Maret 1902 klub kembali terpecah dan melahirkan Madrid Football Club. Tanggal ini tercatat sebagai tanggal berdirinya Real Madrid.

Tiga tahun setelah berdiri, tepatnya pada 1905, Madrid sukses merebut gelar perdananya yakni Copa Del Rey. Saat itu Madrid mengalahkan Athletic Bilbao di partai final. Gelar ini berhasil dipertahankan Madrid empat tahun berturut-turut sampaui tahun 1908.

TIPE LETUSAN GUNUNG API


Setiap gunung berapi memiliki karakteristik letusan (erupsi) tertentu  yang dapat dilihat dari material yang dikeluarkan, intensitas erupsi, bentukan alam hasil erupsi dan kekuatan letusannya. Para ahli geologi membedakan letusan gunung api dalam 7 tipe yaitu:

1. Letusan Tipe Hawaii

Ciri-ciri letusan tipe Hawai antara lain: (1) lava yang dikeluarkan dari lubang kepundan bersifat cair (2) lava mengalir ke segala arah (3) Bentuk gunung yang dihasilkan tipe hawaai menyerupai perisai atau tameng. (4) skala letusannya relative lebih kecil namun intensitasnya cukup tinggi.  Contoh gunung berapi dengan tipe letusan Hawaii antara lain: Gunung Maona Loa, Maona Kea, dan Kilauea di Hawaii.

PERGERAKAN LEMPENG



Bagaimana lempeng bergerak dan hubungannya dengan aktivitas gempa semakin dipahami oleh para ilmuwan. Hampir semua pergerakan tersebut terjadi di sepanjang zona tipis di antara pertemuan lempeng-lempeng  dimana hasil dari gaya-gaya tektonik kelihatan dengan jelas.
Ada empat tipe pertemuan lempeng:

TENTANG HUJAN


Hujan adalah proses turunnya molekul air dari atmosfer dalam bentuk cair maupun padat karena uap air di troposfer mengalami titik jenuh. Uap air ini mencapai atmosfer karena proses evaporasi (penguapan) serta transpirasi (penguapan oleh tanaman).
Hujan sangat berhubungan dengan air. Proses-proses dibawah ini merupakan proses-proses siklus air.
1.      Evaporasi dan Transpirasi
Evaporasi merupakan proses menguapnya air karena pengaruh suhu (radiasi matahari).  Transpirasi juga berarti penguapan, namun ini terjadi pada tumbuhan. Uap air memiliki massa yang ringan sehingga akan dengan mudah naik ke atmosfer dan membentuk awan. Bagian atmosfer yang dicapai adalah troposfer (tempat dimana fenomena cuaca terbentuk).

PROSES TERJADINYA ANGIN DAN JENIS-JENIS ANGIN


Angin adalah udara yang bergerak dari suatu tempat yang bertekanan udara tinggi ketempat lain yang bertekanan udara rendah. Permukaan bumi senantiasa mendapatkan pemanasan yang berbeda disetiap tempat, karena tekanan udara disetiap tempat berbeda pula, kondisi ini menimbulkan gerakan angin yang berbeda-beda arah dan kecepatannya. Alat untuk mengukur kecepatan angin adalah Anemometer.
      Jenis-jenis angin:
1. Angin pasat
Adalah angin yang berhembus tetap sepanjang tahun dan bergerak dari daerah yang bertekanan maksimum (subtropik) ke daerah bertekanan minimum (ekuator).
2. Angin musom
Adalah angin yang terjadi akibat perbedaan pemanasan daratan dan lautan yang terjadi didaerah tropis dan daerah yang berdekatan dengan daerah tropis. Angin musom di Indonesia berganti arah setiap 6 bulan sekali dari benua Asia ke benua Australia dan sebaliknya.
Angin musom di Indonesia ada 2 macam:

Status Gunung Kelud



http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/214651.jpg


Aktivitas vulkanik Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, meningkat. Aktivitas kegempaan vulkanik didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam. Data suhu air panas di kawah Gunung Kelud dan pemantauan visual menunjukkan peningkatan.
Karena itu, terhitung Senin (10/2) pukul 16.00 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Kelud menjadi Siaga atau level tiga. Sebelumnya status Gunung Kelud adalah Waspada atau level dua).
Menurut PVMBG, daerah yang berpotensi terlanda letusan Gunung Kelud ada pada kawasan rawan bencana III. Kawasan ini selalu terancam awan panas, gas racun, lahar letusan, dan aliran lava. Kawasan yang berada dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi ini juga berpotensi tertimpa lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Untungnya, pada radius dua kilometer itu tidak ada permukiman warga.
Sedangkan pada kawasan rawan bencana II berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan lahar letusan. Kawasan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi ini juga berpotensi tertimpa lahar hujan dan hujan abu lebat. Di wilayah ini diperkirakan ada sekitar 100 jiwa penduduk. Warga yang berada di kawasan ini diminta selalu waspada dan memerhatikan perkembangan Kelud yang dikeluarkan oleh PVMBG.

Hipotesa Pengapungan Benua (Continental Drift)



Revolusi dalam ilmu pengetahuan kebumian sudah dimulai sejak awal abad ke 19, yaitu ketika munculnya suatu pemikiran yang bersifat radikal pada kala itu dengan mengajukan hipotesa tentang benua-benua yang bersifat mobil yang ada di permukaan bumi. Sebenarnya teori tektonik lempeng sudah muncul ketika gagasan mengenai hipotesa Pengapungan Benua (Continental Drift) diperkenalkan pertama kalinya oleh Alfred Wegener (1915) dalam bukunya “The Origins of Oceans and Continents”.
Pada hakekatnya hipotesa pengapungan benua adalah suatu hipotesa yang menganggap bahwa benua-benua yang ada saat ini dahulunya bersatu yang dikenal sebagai super-kontinen yang bernama Pangaea. Super-kontinen Pangea ini diduga terbentuk pada 200 juta tahun yang lalu yang kemudian terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang kemudian bermigrasi (drifted) ke posisi seperti saat ini.
Bukti bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea pada 200 juta tahun yang lalu didukung oleh fakta fakta sebagai berikut: